
Oleh: Nanan Abdul Manan
Kuningan, UPMKnews - - Pendidikan adalah proses sepanjang masa. Proses itu bermakna dinamis, yaitu berjalan baik secara linier atau eksponensial. Sifat dinamis untuk pendidikan juga bermakna bahwa akselesari kehidupan harus direspon cepat dengan pelayanan pendidikan yang responsip. Jika pendidikan memiliki basis aktivitas yang hanya sekedar mengulang masa lalu tanpa mendekatkan diri pada aspek kontekstual kekinian, maka pendidikan akan menjadi statis dan hanya akan menjadi kegiatan tidak memberikan implikasi pada tataran solusi kehidupan kini. Dilihat dari sini, pendidikan harus bersifat progresif dan mencerahkan.
Era perubahan yang didengungkan oleh semua kalangan setidaknya dipercepat oleh dua hal: pertama, penyebaran wabah virus covid19 dengan segala variannya secara cepat dan yang kedua, kemajuan teknologi yang dipaksa untuk melesat lebih cepat sehingga berefek pada perubahan paradigm kehidupan manusia kini. Memang, aspek teknologi bias bersanding dengan semua aspek kehidupan. Karena teknologi sebagai penerjemah urusan kehidupan agar dapat didesain, dikembangkan dan digunakan dengan sederhana, mudah dan hasil maksimal.
Akan tetapi, dalam konteks masa kini dengan grand issue seputar covid19, IT semakin didorong kuat untuk melaju cepat guna memberikan pelayanan kepada public dengan berbagai urusannya di tengah kebingungan, kesulitan, dan terbatasnya daya jangkau manusia secara fisik, teknologi tercipta untuk memberikan solusi bukan membingungkan. Ini poin utama yang harus dipahami bersama.
Dalam konteks pendidikan, melesatnya perkembangan teknologi semakin mencitrakan wajah pendidikan yang serba mudah (terlepas dari sisi kekurannya). Kemudahan ini diindikasikan dengan pertemuan virtual, penugasan online, FGD dengan basis aplikasi, sampai evaluasi kinerja berbasis IT semua. Segala kebutuhan dapat diterjemahkan dengan pendekatan teknologi.
Sehingga, PR besar bagi para pendidik dan pengajar kini adalah bagaimana pendidikan itu tidaklah sekedar transfer of knowledge dan transfer of value akan tetapi bagaimana ‘transfer’ itu berubah bentuk menjadi ‘tranform’. Kita sangat butuh para pendidik yang tidak hanya memindahkan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan itu melalu pengajaran, tapi lebih urgen dari itu adalah bagaimana para pendidik atau pengajar mampu mencetak peserta didik sesuai dengan kompetensi dan skill yang dibutuhkan.
Transformasi dapat dipahami sebagai penciptaan kembali aspek-aspek kognitif, apektif, dan psikomotor yang diselaraskan dengan perkembangan era kekinian. Aspek nilai kehidupan yang menjadi landasan ketiga domain itu (kognitif, apektif dan psikomotor) harus menjadi hidup dalam tataran praktik kehidupan peserta didik.
Generasi ke depan setidaknya wajib memiliki beberapa karakteristik guna menghadapi era serba fluktuatif. Diantara karakteristik itu adalah (1) memahami potensi diri, (2) menempatkan potensi diri di tempat yang tepat, (3) mampu menjadikan dirinya sebagai individu penggerak perubahan masyarakat kea rah yang lebih baik.
Ketiga karakteristik itu dapat hadir bilamana proses pembelajaran yang diselenggaran adalah proses yang menggembirakan, mencerahkan, dan memajukan. Menggembirakan adalah segala aktivitas mulai dari mendiagnosa kelas, memulai kelas, melakukan aktivitas inti pembelajaran, melakukan refleksi sampai evaluasi di kelas maupun di luar kelas senantiasa mengedepanan unsur-unsur kasih sayang. Jika kasih sayang telah dibangun oleh pengajar atau pendidik kepada peserta didiknya, maka respon peserta didik pun akan hadir dengan citra positif, yaitu ‘kegembiraan’. Terlepas pembelajaran dan pengajaran itu dilaksanakan di level yang mana (usia dini, dasar, menengah, atas, perguruan tinggi), tetap ‘kegembiraan’ itu harus dihadirkan dalam proses itu.
Aspek berikutnya adalah ‘mencerahkan’. Mencerahkan bermakna menginspirasi, memberi solusi, menebar sikap positif, dan menunjukkan teladan sepanjang masa. Pendidik atau pengajar harus memiliki karakter yang mencerahkan bagi peserta didiknya. Semakin cerah para pengajar atau pendidiknya maka semakin hebat juga peserta didiknya. Dan yang terkahir adalah ‘memajukan’. Proses pembelajaran dan pengajaran yang memajukan adalah ketika pendidik atau pengajar memberikan banyak ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi masing-masing. Individu lahir dengan segala keunikan yang dibawanya. Unik itu berarti pembeda dari lainnya, bukan kekurangan. Keunikan individu harus senantiasa dijaga dan dikembangkan oleh pendidik atau pengajar. Agar potensi mereka berkembang dengan baik sampai akhirnya mereka mengenal jati diri mereka melalui karya-karya dirinya.
Dari paparan di atas, maka pendidikan masa depan adalah pendidikan yang tidak bebas nilai. Pendidikan bernilai (meaningfull education) adalah pendidikan yang senantiasa mendasarkan pada aspek kebermanfaatan bagi perkembangan kehidupan manusia. Pendidikan yang dilakukan tidak hanya berbasis ujian dan penyelesaian masalah tekstual. Lebih dari itu, bahwa pendidikan wajib menjadi solusi atas segala pemasalahan kehidupan kini.
Sehingga, perkembangan kehidupan secepat apapun, pendidikan harus tetap merangkul perkembangan itu agar dapat diisi dengan nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari tata nilai religiusitas dan norma-norma masyarakat. Kehadiran pendidikan yang bermanfaat itu adalah menghantarkan manusia menjadi pribadi yang dapat menghargai dirinya, memuliakan orang lain dan senantiasa berorientasi pada pemberian kebermanfaatan kepada manusia lain. (*)